Posted December 22, 2016 by estiyanti in ABET

Workshop Internal Pengukuran Outcome Mata Kuliah Umum ITB, 21 Des 2017

Pada hari Rabu, 21 Desember 2016 di Hotel Jayakarta Banung, SPM ITB menyelenggarakan Workshop Pengukuran Pencapaian Outcome Mata Kuliah Tahap Persiapan Bersama (TPB) dan Mata Kuliah Umum (MKU)untuk mata kuliah yang telah berjalan pada Sem I 2016-2017. Kegiatan ini diikuti oleh para koordinator mata kuliah TPB dan MKU ITB bersama tim dosen dan asisten akademiknya. Mata kuliah TPB yang terlibat pada kegiatan ini meliputi : Matematika, Fisika Dasar, Kimia Dasar, Pengantar Rekayasa dan Desain dan Pengantar Teknologi Informasi. Adapun mata kuliah umum yang terlibat adalah: Tata Tulis Karya Ilmiah, Bahasa Inggris, Agama dan Etika, Pancasila dan Kewarganegaraan dan Olah Raga.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian pengelolaan pendidikan berbasis outcome di ITB. Pada sistem pendidikan ini, setiap Program Studi dan Unit Pendukung perlu merumuskan Profil Lulusan yang diharapkan, kemudian merumuskan Capaian Pembelajaran (outcome) untuk membentuk profil tersebut. Capaian Pembelajaran ini kemudian diuraikan lebih konkrit dalam Indikator Kinerja (Performance Indicator), yaitu tindakan keahlian atau perilaku nyata yang harus dapat didemostrasikan oleh para lulusan program studi yang bersangkutan. Pemenuhan outcome ini perlu direncanakan secara berjenjang dan sistematik melalui kuliah, praktikum dan kegiatan akademik lainnya.

Pengelolaan pemenuhan capaian pembelajaran di ITB terdiri dari pengelolaan terpadu untuk mata kuliah TPB dan MKU oleh SPM ITB dan pengelolaan mete kuliah prodi di masing-masing program studi. Workshop ini merupakan upaya SPM ITB untuk mensinergikan pemenuhan outcome mata kuliah TPB dan MKU wajib yang dijalani oleh seluruh mahasiswa ITB, dan melibatkan sekitar 4000 mahasiswa per semester.

Siklus pengelolaan pembelajaran berbasis outcome pada mata kuliah yang ditangani oleh para koordinator mata kuliah dan tim dosennya adalah sebagai berikut :

  1. Mengevaluasi dan merumuskan kembali outcome dan indikator kinerja yang akan dipenuhi pada mata kuliah
  2. Merencanakan kegiatan sepanjang 1 semester untuk memenuhi indikator kinerja yang telah dirumuskan
  3. Merencanakan kegiatan asesmen untuk mengukur pencapaian indikator kinerja
  4. Merangkum dan mengolah hasil asesmen indikator kinerja untuk menghasilkan informasi pencapaian pembelajaran
  5. Mengevaluasi dan menentukan tindakan perbaikan berkelanjutan terhadap hasil asesmen pencapaian pembelajaran

Dengan demikian, pada workshop ini seluruh koordinator mata kuliah dan tim melaksanakan pengolahan data asesmen outcome, mengevaluasinya dan menenentkuan tindakan perbaikan berkelanjutan terhadap mata kuliah yang telah berjalan pada semester I 2016-2017. Hal ini kemudian dijadikan dasar perencanaan kegiatan dan asesmen outcome pada Semester II 2016-2017. Pengelolaan terpadu oleh SPM ITB memastikan efisiensi kegiatan asesmen di level koordinator mata kuliah yang kemudahan pemetaan hasil asesmen outcome yang bervariasi di berbagai program studi yang diakreditasi oleh lembaga akreditasi internasional yang berbeda.

Workshop ini merupakan workshop keempat sejak tahun 2015 yang dijalankan SPM bekerjasama dengan Lembaga TPB dan MKU ITB. Pada kesempatan ini, Koordinator MKU, Dr. H. Yedi Purwanto, M.Ag. menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan asesmen outcome, karena memberikan peran dan arah yang jelas pada pendidikan MKU di ITB.

Salah satu hal yang sangat penting dan sering dilupakan oleh berbagai institusi yang baru mulai melaksanakan pendidikan berbasis outcome adalah menetapkan religiositas, etika dan wawasan kebangsaan sebagai outcome utama, namun lalai merencanakan pencapaiannya secara sistematik dan berjenjang melalui berbagai mata kuliah dari tingkat pertama sampai tingkat terakhir. Akibatnya, perumusan outcome yang terkait ketiga hal tersebut menjadi abstrak dan tidak menunjukkan tindakan dan kemampuan riil yang dapat ditunjukkan oleh mahasiswa sebagai karakter yang dibina sepanjang pendidikan sarjana di perguruan tinggi. Pembentukan kemampunan ini juga hanya ditumpangkan pada mata kuliah Agama dan Etika serta Pendidikan Kewarganegaraan, yang pada banyak kasus di perguruan tinggi non keagamaan tidak melebihi 5 SKS dari 144 SKS minimum untuk memenuhi syarat pendidikan Sarjana.

Selayaknya, bila institusi yang bersangkutan menetapkan etika, religiositas dan wawasan kebangsaan sebagai outcome utama, maka harus ada mata kuliah tingkat dua sampai tingkat akhir yang memuat kegiatan memperkuat dan menerapkan prinsip tersebut sesuai dengan bidang keilmuannya. Asesmen outcome pada kegiatan tersebut juga perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan serius. Untuk itu, diperlukan dosen yang mumpuni, tidak hanya mampu menyampaikan teori keilmuan, namun juga memberikan pembekalan aspek religiositas, etika dan kebagsaan dalam aspek keilmuan tersebut. Dosen yang bersangkutan bukan hanya harus mampu menyampaikan, namun juga merencanaan kegiatan untuk mengases outcome tersebut dan mengevaluasinya. Bila hal ini dipenuhi dalam perencanaan kegiatan akademik di program studi, dan mahasiswa melaksanakannya sebagai kode etik dan karakter keilmuannya, barulah layak program studi yang bersangkutan mengklaim religiositas, etika dan wawasan kebangsaan sebagai outcome utamanya.

Aspek serupa juga berlaku untuk pendidikan kemampuan softskill, seperti komunikasi, kerjasama tim dan pengelolaan diri. Bila aspek ini merupakan outcome program studi, maka program studi perlu mempersiapkan rangkaian dan kegiatan dalam mata kuliah keilmuan dan lanjutan untuk memperkuat dan menerapkan prinsip yang sudah dipelajari pada mata kuliah MKU, seperti Tata Tulis Karya Ilmiah, Bahasa Inggris dan Olahraga.

Melalui perencanaan pencapaian outcome melalui berbagai mata kuliah secara berjenjang dan sistematik inilah kurikulum program studi menjadi bermakna dan dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter. Melalui perencanaan ini pulalah program studi dapat merancang perekrutan dan pembinaan dosen dan tenaga kependidikan yang berkualitas dan mampu mendukung program studi untuk menghasilkan lulusan yang mumpuni dan berakhlak mulia.

Semoga melalui workshop ini, penguasaan pelaksanaan pendidikan berbasis outcome terus tumbuh dan bertambah kuat.